Sabtu, 21 Desember 2013

KONSEP DAN DEFINISI DEMOGRAFI

Add caption
Demografii adalah suatu kata pindahan dari bahasa Yunani yang terdiri dua kata, "demos"" yang artinya penduduk, dan "graphein" artinya menulis.  Jadi demografi menurut kata-kata asalnya berarti tulisan-tulisan atau karangan-karangan tentang penduduk suatu negara.
Definisi demografi seperti yang disebutkan di atas masih belum jelas arahnya, sulit dibedakan dengan ilmu-ilmu sosial yang lain misalnya: sosiologi, antropologi sosial, geografi sosial, yang juga berorientasi pada studi tentang penduduk (man-oriented).  Agar mudah dibedakan dengan ilmu-ilmu sosial yang lain, maka Philip M. Hauser dan Dudley Duncan (1959, 2) mengusulkan definisi untuk ilmu demografi sebagai berikut:
Demography is the study of the size, territorial distribution and composition of population, changes there in and the components of such changes which may be identified as natality, mortality, territorial movement (migration), and social mobility (change of Status)".
Dalam  bahasa Indonesia terjemahannya kurang  tebih sebagai berikut;
“Demografi mempelajari jumlah, persebaran teritoriai dan komposisi pen­duduk serta perubahan-perubahannya dan sebab-sebab perubahan itu, yang biasanya timbul karena natalitas, mortalitas, gerak teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status)'
Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa demografi mempelajari struktur dan proses penduduk di suatu wilayah.  Struktur penduduk meliputi jumlah, penyebaran dan komposisi penduduk. Struktur penduduk ini selalu berubah-ubah, dan perubahan tersebut disebabkan karena proses demografi yaitu kelahiran, kematian dan migrasi penduduk. Berbeda dengan ilmu-ilmu sosial lainnya yang menekankan studinya pada struktur penduduk, maka demografi lebih menekankan studinya pada proses demografi. Ahli demografi mempelajari struktur penduduk untuk dapat lebih memahami proses demografi. Misalnya dalam menganalisa fertilitas penduduk di suatu daerah, ahli demografi perlu mengetahui  jumlah pasangan usia subur yang ada di daerah tersebut.
Demografi bersifat analistis-mathematis, dan karena sifatnya yang demikian ini, demografi sering disebut juga statistik pen­duduk. Demografi formal menghasilkan berbagai teknik-teknik baru untuk menghitung angka-angka perbandingan demografi dan memperdalam pengertian tentang data-data yang telah dikumpulkan oleh statistik penduduk. Dengan cara-cara perhitungan baru dan pengetahuan baru tentang hubungan-hubungan antara unsur-unsur demografi hakiki (kelahiran, kematian, migrasi, jenis kelamin, umur dan sebagainya) dapatlah dibuat berbagai perkiraan-perkiraan jumlah penduduk untuk masa yang akan datang (forward projection), dan juga bagi  jaman yang lalu  (backward-projection;  Iskandar 1977, 8).
Di samping "demografi", kita sering pula mendengar "ilmu kependudukan", atau "studi kependudukan" (population study). Studi kependudukan lebih luas dari demografi, karena di dalam memahami karakteristik penduduk di suatu wilayah, faktor-faktor non-demografis pun ikut dipertimbangkan. Misalnya, di dalam memahami trend fertilitas, tidak hanya ditinjau jumlah wanita da­lam usia subur, tetapi faktor-faktor sosial budaya juga ikut diper­timbangkan. Pada masyarakat di mana penduduknya menginginkan anak yang lengkap (laki-laki dan perempuan) maka besarnya jumlah anak ditentukan oleh kelengkapan jenis kelamin dari jum­lah anak yang telah dipunyainya. Ada juga beberapa ahli membedakan kedua disiplin ilmu ini atas demografi formal (formal demography) untuk ilmu demografi, dan demografi sosial (social demography) untuk studi kependudukan (Bogue 1969, 4).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar